Mengapa Rumah Tapak Masih Jadi Favorit Orang Indonesia?

Di tengah semakin banyaknya pembangunan apartemen di kota-kota besar, rumah tapak masih menjadi hunian yang paling diidamkan banyak masyarakat Indonesia.

Meski hunian vertikal menawarkan lokasi strategis dan berbagai fasilitas modern, rumah yang berdiri di atas tanah sendiri tetap sulit tergeser sebagai pilihan utama.

Bukan tanpa alasan, rumah tapak dinilai memberikan rasa nyaman, kebebasan, hingga kepastian kepemilikan yang lebih besar dibandingkan apartemen disamping menawarkan keleluasaan dalam beraktivitas,

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (Waketum DPP REI) Bambang Ekajaya mengatakan, tinggal di apartemen mengharuskan penghuni beradaptasi dengan pola hidup yang berbeda.

Sementara itu, rumah tapak dinilai memberikan keleluasaan yang lebih sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia.

“Kalau tinggal di apartemen berarti harus mengubah kebiasaan hidup. Penghuni harus menyesuaikan gaya hidup karena tinggal dalam satu lantai bersama puluhan keluarga dengan karakter yang berbeda-beda dan aturan yang ketat, mulai dari AD/ART hingga tata tertib,” ujar Bambang.

Jadi Favorit Orang Indonesia

1. Lebih Bebas Menjalani Gaya Hidup
Menurut Bambang, tinggal di apartemen berarti penghuni harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihuni banyak keluarga sekaligus. Selain harus berbagi fasilitas bersama, penghuni juga wajib mematuhi berbagai aturan yang ditetapkan pengelola apartemen. Berbeda dengan rumah tapak, pemilik memiliki kebebasan yang lebih besar dalam menjalani aktivitas sehari-hari tanpa banyak pembatasan.

2. Bebas Pelihara Hewan Kesayangan
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, hewan peliharaan sudah menjadi bagian dari keluarga. Namun, tidak semua apartemen mengizinkan penghuni memelihara hewan.

Beberapa apartemen bahkan menerapkan larangan terhadap jenis hewan tertentu demi menjaga kenyamanan bersama. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan masyarakat yang memilih tinggal di rumah tapak.

3. Renovasi Rumah Lebih Fleksibel
Rumah tapak juga menawarkan keleluasaan bagi pemilik untuk mengubah desain maupun tata ruang sesuai kebutuhan.
Pemilik dapat memperluas bangunan, mengubah fasad, hingga menambah ruangan ketika anggota keluarga bertambah.

Sebaliknya, penghuni apartemen umumnya tidak dapat mengubah tata ruang maupun perlengkapan unit secara bebas karena harus mengikuti aturan pengelola gedung.

4. Tidak Terbebani Tingginya Biaya Pengelolaan
Selain harga unit, penghuni apartemen juga harus membayar Iuran Pengelolaan Lingkungan (IPL) dan sinking fund (dana cadangan) untuk operasional serta perawatan gedung.

Menurut Bambang, biaya tambahan tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat lebih memilih rumah tapak.

5. Parkir Kendaraan Lebih Leluasa
Ketersediaan lahan parkir juga menjadi pertimbangan. Sebab, untuk di apartemen, jumlah slot parkir umumnya terbatas. Bahkan, ketika penghuni ingin menambah kendaraan, belum tentu tersedia tempat parkir yang dapat digunakan.

Sementara itu, rumah tapak biasanya memiliki area parkir sendiri sehingga pemilik lebih leluasa menyimpan kendaraan.

6. Kepemilikan Lebih Memberikan Rasa Aman
Faktor lain yang membuat rumah tapak tetap diminati adalah status kepemilikannya. Menurut Bambang, rumah tapak umumnya memiliki sertifikat atas tanah, bahkan dapat berstatus Hak Milik, sehingga memberikan kepastian hukum yang lebih kuat.

Selain itu, rumah tapak juga dapat dikembangkan seiring meningkatnya kebutuhan maupun kemampuan finansial pemilik.
“Kalau di rumah tapak semuanya bisa dan bebas. Ke depan jika ada dana bisa dibangun bertingkat ke atas.

Saat ini, rumah bisa tiga sampai empat lantai. Kepemilikan sertifikat bahkan Hak Milik, selamanya,” ujar Bambang.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, tak heran jika rumah tapak masih menjadi hunian favorit masyarakat Indonesia.

Meski apartemen menawarkan kemudahan akses dan gaya hidup perkotaan, banyak orang masih menempatkan kebebasan, fleksibilitas, serta kepastian kepemilikan sebagai pertimbangan utama dalam memilih tempat tinggal.

More Post